Faedah Surah Al-Baqarah 214. Di antara faidah-faidah yang bisa kita petik dari ayat ini, Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin Rahimahullah berkata: 1. Perhatian Allah Subhanahu wa Ta'ala terhadap umat Islam. Allah menghibur umat Islam dengan umat-umat sebelumnya. Artinya bahwa umat-umat sebelum kalian itu diberikan ujian sangat berat.
Ingat-ingat lagi sabda Rasulullah saw: "Tidak beriman seseorang dari kalian hingga dia mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri." (HR. Bukhari-Muslim dari Anas ra). Karena itu, seseorang belum dapat dikatakan bertakwa sebelum ia mencintai saudaranya. "Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain Bahkan pada taraf tertentu, seseorang tidak dikatakan beriman dikarenakan tidak menjaga lisannya. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassallam bersabda, "Yang disebut Muslim adalah orang yang lisan dan perbuatan tangannya membuat orang lain aman dan selamat."(HR. Muslim). Keselamatan seseorang tergantung dari lisannya. Setiap mukmin dan mukminah wajib mencintai Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam . Tidak dikatakan beriman, seseorang yang tidak mencintai Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam . Wajib mencintai Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam melebihi kecintaan kepada orang tua, anak, istri, harta dan seluruh manusia. Konsekuensi cinta kepada Nabi
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta," (QS. Al-Ankabut: 2-3).
Klik di sini sekarang. 📚 Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI / Surat Al-Baqarah Ayat 214. Ketika orang-orang mukmin di madinah menderita kemiskinan karena meninggalkan harta benda mereka di mekah dan juga akibat peperangan yang terjadi, Allah bertanya untuk menguji mereka. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang
Bisa juga, sebagaimana dinyatakan al-Syaukani, bermakna li al-taqrî' wa al-tawbîkh (celaan dan teguran). Artinya, mereka tidak dibiarkan begitu saja mengatakan telah beriman tanpa diuji dan dicoba seperti yang mereka kira. Mereka benar-benar akan diuji untuk membuktikan kebenaran pengakuan iman mereka. Kata yuftanûn berasal dari kata al

Mengutip dari buku yang bertajuk Penuntun: Allah Paling Hebat karya HF. Rahadian, orang yang tidak beriman kepada Allah disebut dengan kafir. Sementara itu, untuk perilaku mengingkari atau tidak

Terkadang seorang diuji dengan kesenangan seperti harta yang banyak, anak-anak, istri dan lainnya, akan tetapi tidak sepantasnya dikatakan orang yang dicintai Allah Ta'ala jika tidak melakukan ketaatan kepada-Nya atau justru terlena karenanya. .
  • 1b634dr9pg.pages.dev/400
  • 1b634dr9pg.pages.dev/695
  • 1b634dr9pg.pages.dev/4
  • 1b634dr9pg.pages.dev/560
  • 1b634dr9pg.pages.dev/421
  • 1b634dr9pg.pages.dev/750
  • 1b634dr9pg.pages.dev/743
  • 1b634dr9pg.pages.dev/722
  • 1b634dr9pg.pages.dev/535
  • 1b634dr9pg.pages.dev/647
  • 1b634dr9pg.pages.dev/633
  • 1b634dr9pg.pages.dev/518
  • 1b634dr9pg.pages.dev/587
  • 1b634dr9pg.pages.dev/868
  • 1b634dr9pg.pages.dev/579
  • tidak dikatakan beriman seseorang sebelum diuji